Monday, July 7, 2014

PERLUKAH KITA BERPUASA

Perlukah kita berpuasa?

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puasa adalah sebuah kondisi dimana seseorang dalam keadaan menahan diri untuk melakukan sesuatu. Ada banyak hal yang biasanya “dipuasakan”. Misalnya puasa dari makan dan minum, puasa untuk tidak berbicara, puasa belanja, bahkan dalam dunia olahraga ada istilah puasa gelar juara, puasa prestasi hingga puasa gol.

Kali ini puasa yang ingin saya bahas adalah puasa yang berkenaan dengan momen saat ini, yaitu puasa di bulan Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan adalah puasa yang hanya dikerjakan di bulan Ramadhan dalam kalender Islam (Hijriyah). Puasa ini hukumnya wajib bagi seorang Muslim (orang beragama Islam). Ketika seseorang mengerjakan puasa Ramadhan, maka ia tidak diperkenankan untuk makan, minum, berhubungan intim, pada siang hari atau waktunya di mulai dari terbitnya fajar (adzan subuh) hingga tenggelamnya matahari di ufuk barat (azan maghrib). Bukan hanya menahan diri untuk tidak makan, minum, dan berjima’ saja yang dilarang ketika sedang berpuasa, akan tetapi ada beberapa hal yang juga mesti dijaga ketika sedang berpuasa. Hal-hal tersebut diantaranya menahan/menjaga pandangan, pendengaran, perkataan, perbuatan dari hal-hal yang sifatnya negatif atau buruk.

Menjaga pandangan bisa dengan tidak melihat hal-hal yang dapat memancing syahwat, membatasi menonton tv yang lebih banyak menampilkan wanita-wanita yang berpakaian serba minim dsb.

Menjaga pendengaran adalah dengan menjauhkan diri dari mendengar hal-hal yang bukan hak kita, misalnya menguping pembicaraan orang lain, mendengarkan gunjingan, mendengarkan lagu-lagu yang dapat mengarahkan kita berpikir negatif bahkan  dapat membuat kita berpikiran kotor.

Menjaga  perkataan sebaik-baiknya. Menjauhi pergunjingan atau bergosip, mengucapkan kata-kata kasar dan kotor, memfitnah, hasud, berdusta, menghardik, mengumpat dan segala hal yang sama sekali tidak pantas untuk diucapkan oleh lisan.

Perbuatan lain yang juga mesti dihindari saat sedang berpuasa diantaranya marah, kesal, emosi, melakukan perbuatan sia-sia dan lain sebagainya.

Jika hal-hal tersebut sangat dilarang ketika sedang berpuasa, lalu apakah di luar bulan puasa kita boleh melakukannya?

Jawabannya tentu saja tidak demikian. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari segala perbuatan sia-sia, buruk dan merugikan. Sadar atau lupa, terpaksa atau tidak, kekhilafan senantiasa akan selalu mengiring kehidupan manusia. Sedangkan Bulan Suci Ramadhan adalah satu bulan dari dua belas bulan Allah SWT dalam hitungan tahun Hijriyah (Komariyah) yang Allah sediakan sebagai bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan yang tidak akan ditemukan di bulan lain. Bukti kasih sayang Allah SWT kepada makhluknya yang bernama manusia, Dia memberikan kesempatan kepada ummat-Nya untuk memperbaiki diri, bertaubat dan menghapus segala dosa sekaligus memperbanyak pahala.

Apakah ini berarti bahwa Allah SWT tidak menerima taubat hambaNya dan tidak dapat mendapatkan pahala di luar bulan Ramadhan? Tentu saja tidak! Bulan Suci Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan dan kemuliaan. Di bulan yang dari namanya berarti “panas” ini Allah akan melipatgandakan pahala segala amalan baik dan ibadah yang dikerjakan hamba-Nya. Sangking luasnya pahala yang Allah SWT “obral” di bulan ini, bahkan orang yang tidur atau hanya diam saja akan diganjar pahala dari Allah. Dan Allah akan membuka pintu taubat seluas-luasnya kepada mereka yang memohon ampunan-Nya, karena pada saat bulan Ramadhan, Allah SWT membuka semua pintu surga selebar-lebarnya dan menutup semua pintu neraka. Para syaitan yang selama ini kerjanya hanya menggoda manusia agar terjerumus kedalam dosa pun akan dibelenggu di dalam neraka. Dan segala bentuk siksaan di alam kubur akan dihentikan selam bulan Ramadhan.

Bukan hanya itu, ada dua peristiwa penting yang hanya terjadi pada bulan Ramadhan. Yang pertama, peristiwa turunnya Al-Qur’an ke dunia yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabiyullah Muhammad SAW sebagai pedoman hidup seluruh manusia. Peristiwa ini dikenal dengan Nuzulul Qur’an.

Peristiwa yang kedua adalah malam Lailatul Qadr atau yang dikenal dengan Malam Seribu Bulan. Ialah sebuah malam yang apabila kita beribadah pada malam itu maka pahalanya akan setara dengan kita beribadah selama seribu bulan atau sekitar delapan puluh tiga tahun lebih. Padahal umur rata-rata manusia sekarang hanya sekitar 63-70 tahun. Itu artinya beribadah seumur hidup. Jika malam Nuzulul Quran terjadi pada malam ketujuhnbelas, maka malam Lailatul Qadr terjadi pada salah satu malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Allah tentu punya maksud dengan merahasiakan tepatnya malam keberapa turunnya Lailatul Qadr. Agar manusia senantiasa beribadah secara tulus dan berkesinambunagn pada malam-malam terakhir itu. Selain itu Allah SWT adalah Maha Tahu siapa saja hamba-Nya yang pantas mendapatkan malam Kemulian itu.

Kembali kepada judul di atas tentang apa perlunya kita berpuasa. Puasa adalah kondisi dimana tubuh kita mendapatkan rehat atau istirahat sejenak dari segala aktivitas yang selama ini kita lakukan. Organ-organ pencernaan kita yang biasanya bekerja setiap hari selam dua puluh empat jam dalam kurun waktu sebelas bulan mengolah segala jenis makanan dengan jumlah yang kadang melebihi kapasitas, diistirahatkan untuk tidak dioperasikan selama beberapa jam, bukan secara total akan tetapi kinerja saja yang kenudian diperlambat atau diperhalus. Organ yang tadinya terus dipaksa bekerja tanpa henti direfresh agar kembali pulih dan dapat bekerja seperti baru lagi. Dikarenakan organ pencernaan berpengaruh terhadap semua organ tubuh, karena unsur-unsur pembangun tubuh seperti vitamin, karbohidrat, protein, mineral dan zat-zat lain yang penting bagi tubuh disalurkan dari organ pencernaan, maka kesehatan organ pencernaan akan sangat menentukan kesehatan organ-organ tubuh yang lain.

Jika menahan diri dari makan dan minum dapat menyehatkan tubuh, lalu bagaimana dengan menahan pandangan, pendengaran, dan tingkah laku dari hal-hal negatif dapatkah menyehatkan tubuh? Jawabannya lagi-lagi, Ya!!! Segala pendangan, pendengaran, ucapan buruk tentunya berkaitan erat dengan kerja otak manusia. Otak yang selalu dibiasakan untuk berpikir positif akan memberikan pengaruh yang baik bagi kerja syaraf-syaraf otak.

Selain dari sisi medis seperti yang telah disebutkan di atas, secara moral dan kemanusiaan, puasa juga mengajarkan kita sebuah pelajaran tentang merasakan apa yang orang-orang di luar sana yang hidup dalam kekurangan materi rasakan. Bagaimana mereka harus berjuang setiap hari menahan lapar dan dahaga karena ketidakmampuan mereka secara materi untuk mengisi perut-perut mereka dengan makanan. Diharapkan setelah orang-orang berpuasa ini merasakan kesulitan “orang-orang yang kurang beruntung” karena ikut merasakan kelaparan, akan timbul rasa empati dan belas kasih, agar mau berbagi terhadap orang-orang yang serba kekurangan serta agar mereka dapat mensyukuri segala rezki Allah SWT karena hidup dalam kecukupan. Itu juga sebabnya di akhir bulan Ramadhan ada satu kewajiban lagi yang harus ditunaikan, yaitu kewajiban membayar zakat fitrah. Zakat fitrah adalah aplikasi dari salah satu dampak berpuasa yang berkaitan dengan sisi kemanusiaan yaitu berbagi. Zakat fitrah hukumnya adalah wajib bagi setiap Muslim, bahkan bayi yang baru lahir sebelum azan subuh pada tanggal 1 syawal juga wajib dibayarkan zakatnya oleh orang tuanya. Di dalam urusan zakat fitrah hanya ada dua pihak, yaitu orang yang wajib membayar zakat dan orang yang berhak menerima zakat. Jadi, jika mampu ia wajib membayar zakat, namun jika ia tidak mampu, maka secara otomatis dia berhak menerima zakat.

Demikianlah sedikit uraian singkat saya mengenai puasa, Ramadhan dan zakat. Apa yang paparkan hanyalah yang secara umum perlu kita ketahui, tidak secara detil. Saya juga tidak mencantumkan satupun dalil baik dari ayat-ayat suci al Qur’an maupun dari Hadist Rasulullah, selain dikarenakan keterbatasan ilmu yang saya miliki tapi juga karena saya khawatir jika kelak akan slah mengutip.

Semoga artikel sederhana yang saya posting kali ini dapat bermanfaat. Terima kasih

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

No comments:

Post a Comment

Leave a comment, please.......:)

Wahai Diriku....

Dzikir inilah yang setiap hari paling sering kita lafadzkan....

Suamiku....suamiku
Istriku.......istriku
Anakku......anakku
Hartaku.....hartaku
Pangkatku...pangkatku

Lalu mana....
Allah-ku......Allah-ku
Selamatkan aku...Selamatkanlah aku
Ampuni aku......Ampunilah aku


uje - - - huruf kecil saja